LUTIM-www.liputantimur.id-Bulan Januari telah berlalu, namun bagi sejumlah guru Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) paruh waktu di Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, gaji bulan tersebut belum juga mereka terima. Di saat masyarakat mulai menyambut datangnya Ramadhan, para pendidik ini justru masih menanti hak yang belum dibayarkan.
Sudah lebih dari sebulan mereka tetap menjalankan kewajiban seperti biasa mengajar, membimbing, dan mendidik siswa dengan penuh tanggung jawab. Namun di balik senyum di depan kelas, tersimpan kegelisahan yang kian menumpuk.
“Januari sudah selesai, tapi gaji kami belum ada. Sementara kebutuhan keluarga terus berjalan,” ujar seorang guru yang enggan disebutkan namanya.Senin 16/2/2026.
Ia mengaku harus menunda pembayaran sejumlah kebutuhan rumah tangga dan mengatur ulang pengeluaran demi bertahan hingga ada kejelasan.
Situasi ini terasa semakin berat karena Ramadhan tinggal menghitung hari. Biasanya, momen ini menjadi waktu untuk mempersiapkan kebutuhan keluarga dan memperkuat kebersamaan.
Namun tanpa kepastian gaji, sebagian guru terpaksa menahan keinginan dan menekan pengeluaran seminimal mungkin.
Tetap Mengajar, Meski Hati Cemas
Seorang guru SMP di salah satu sekolah negeri di Luwu Timur mengatakan bahwa dirinya tetap berusaha profesional.
“Anak-anak tidak boleh tahu apa yang kami alami. Kami tetap mengajar seperti biasa, karena itu tanggung jawab kami,” tuturnya.
Meski demikian, beberapa guru mengaku terpaksa meminjam dana dari keluarga atau kerabat untuk memenuhi kebutuhan mendesak. Mereka berharap keterlambatan ini segera menemukan titik terang.
Harapan Akan Kepastian
Para guru PPPK paruh waktu ini tidak menuntut lebih dari hak yang seharusnya mereka terima. Mereka hanya berharap ada kejelasan dan transparansi mengenai proses pencairan gaji Januari yang tertunda.
Di tengah suasana menjelang Ramadhan, doa-doa mereka bukan hanya tentang keberkahan dan ampunan, tetapi juga tentang kepastian dan keadilan. Sebab bagi mereka, pengabdian tak pernah berhenti meski Januari telah berlalu tanpa gaji yang dibayarkan.
Di ruang-ruang kelas itulah mereka tetap berdiri, mengajarkan harapan kepada generasi muda, sembari menunggu harapan yang sama datang untuk diri mereka sendiri (*)







